• Jl. Ps. Harimau, RT.04 RW.03, Kel. Boyaoge
  • Info@gmail.com
  • Office Hours: 8:00 AM – 17:00 PM

Sejarah Singkat Kelurahan Boyaoge

Kelurahan Boyaoge merupakan salah satu wilayah bersejarah yang berada di Kecamatan Tatanga, Kota Palu. Nama Boyaoge berasal dari bahasa Kaili, yaitu Boya yang berarti kampung atau tempat dan Oge yang berarti besar. Secara makna, Boyaoge dapat diartikan sebagai “kampung yang dibesarkan” atau tempat yang memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat di Lembah Palu pada masa lampau.

Sejak zaman kerajaan, Boyaoge dikenal sebagai tempat berkumpulnya para raja dan pemimpin wilayah di Lembah Palu untuk melaksanakan musyawarah dan perundingan dalam menyelesaikan berbagai persoalan. Kegiatan tersebut dilaksanakan di sebuah bangunan yang dikenal dengan nama Bakuku, yaitu rumah pertemuan yang menjadi pusat pengambilan keputusan. Pada masa itu, Boyaoge dipimpin oleh seorang Galara yang berperan sebagai pemimpin musyawarah sekaligus tokoh penting dalam sistem pemerintahan adat.

Seiring perkembangan pemerintahan di Indonesia, Boyaoge kemudian ditetapkan sebagai kelurahan berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa/Kelurahan yang ditindaklanjuti dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 1980 serta Peraturan Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah Nomor 8 Tahun 1981.

Lurah pertama Kelurahan Boyaoge adalah Bapak Dg. Mangiri Djanggola yang menjabat pada tahun 1981 hingga 1989. Kepemimpinan selanjutnya diteruskan oleh beberapa lurah yang telah memberikan kontribusi dalam pembangunan wilayah, hingga saat ini Kelurahan Boyaoge dipimpin oleh Idrus Mansur, SE., MM.

Dengan sejarah panjang yang dimilikinya, Kelurahan Boyaoge terus berkembang sebagai wilayah yang menjunjung tinggi nilai budaya, musyawarah, kebersamaan, serta semangat pembangunan demi mewujudkan masyarakat yang maju, mandiri, dan sejahtera.